
Tangerang, 5 Juli 2026
Tidak semua ujian seorang mualaf berakhir ketika ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Bagi sebagian saudara kita, ujian itu bahkan terus berlanjut hingga akhir hayat. Sebuah peristiwa yang terjadi pada awal Juli 2026 menjadi pengingat bahwa hak seorang muslim terkadang masih harus diperjuangkan, bahkan setelah ia wafat.
Sabtu, 4 Juli 2026, Ketua Umum Mualaf Center Indonesia menerima sebuah telepon dari seorang pelapor. Dengan suara penuh harap, ia menyampaikan kabar duka bahwa seorang mualaf telah meninggal dunia. Namun, terdapat kekhawatiran karena pihak keluarga berencana mengurus jenazah tidak sesuai dengan keyakinan Islam yang dipegang almarhumah hingga akhir hayatnya.
Telepon tersebut menjadi awal dari perjuangan yang berlangsung selama dua hari.
Tanpa menunggu lama, Ketua Umum Mualaf Center Indonesia bersama Sekretaris Umum, pelapor, relawan, serta beberapa pihak terkait segera melakukan koordinasi dan bergerak menuju lokasi. Tujuan mereka bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan memastikan kebenaran informasi yang diterima.
Sesampainya di rumah almarhumah, tim tidak langsung mengambil kesimpulan. Berbagai fakta dikumpulkan secara hati-hati melalui keterangan suami, para tetangga, saksi-saksi, serta dokumen pendukung. Satu demi satu bukti menunjukkan bahwa almarhumah tetap memegang teguh Islam sebagai jalan hidupnya hingga akhir hayat.
Setelah memperoleh bukti yang kuat mengenai keislaman almarhumah, Mualaf Center Indonesia segera berkoordinasi dengan pimpinan Komunitas Peduli Jenazah (KPJ) Masjid Raya Pondok Indah sebagai langkah antisipasi apabila jenazah berhasil diserahkan untuk dimakamkan secara syariat Islam.
Namun, perjuangan belum selesai.
Keberadaan jenazah belum diketahui. Bahkan, suami almarhumah tidak memperoleh informasi mengenai lokasi rumah duka dari pihak keluarga. Dengan penuh harap, tim berikhtiar mencari informasi hingga akhirnya memperoleh petunjuk bahwa jenazah berada di sekitar Pasar Anyar, Kota Tangerang.
Pencarian dilakukan hingga menjelang waktu magrib. Lokasi pertama yang didatangi ternyata bukan rumah duka yang dimaksud. Tim kemudian bertanya kepada warga sekitar hingga akhirnya memperoleh informasi mengenai rumah duka yang benar.
Alhamdulillah, di sanalah jenazah akhirnya ditemukan.
Namun, ujian sesungguhnya justru dimulai ketika tim bertemu dengan keluarga.
Dialog berlangsung panjang dan penuh kehati-hatian. Tidak ada bentakan, tidak ada caci maki, apalagi permusuhan. Seluruh proses dilakukan dengan mengedepankan musyawarah dan penghormatan kepada semua pihak.
Tim Mualaf Center Indonesia menyampaikan berbagai bukti, di antaranya surat syahadat, kesaksian warga, wasiat tulisan tangan almarhumah, serta dokumentasi kehidupan beliau sebagai seorang muslim.
Satu permohonan disampaikan kepada keluarga:
"Mari kita hormati pilihan terakhir beliau. Mari kita hormati keyakinan yang beliau pegang hingga akhir hayat."
Pembicaraan berlangsung cukup lama. Suasana beberapa kali menjadi hening ketika masing-masing pihak memilih bermusyawarah dan menenangkan diri. Di saat-saat seperti itulah terasa bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang luar biasa, tetapi melalui hati-hati yang perlahan dilunakkan.
Atas izin Allah, akhirnya tercapai kesepakatan.
Pihak keluarga bersedia menyerahkan jenazah kepada suami untuk diurus sesuai syariat Islam pada keesokan harinya.
Meski waktu telah menunjukkan larut malam, perjuangan belum berakhir. Sekitar pukul 01.00 dini hari, tim baru tiba kembali di Pamulang. Tanpa beristirahat, koordinasi kembali dilakukan untuk menentukan lokasi pemakaman, menghubungi pengurus masjid, Komunitas Peduli Jenazah, tetangga, hingga menyiapkan mobil jenazah agar seluruh proses dapat berjalan dengan baik pada pagi harinya.
Ahad pagi, jenazah akhirnya resmi diserahkan.
Dengan penuh penghormatan, almarhumah dimandikan, dikafani, disalatkan, kemudian diantarkan menuju tempat peristirahatan terakhir sesuai tuntunan syariat Islam. Saat liang lahat mulai ditutup, rasa lelah selama dua hari seolah sirna, berganti dengan rasa syukur atas pertolongan Allah Ta'ala.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa fardu kifayah bukan sekadar mengurus jenazah. Ia merupakan amanah untuk menjaga hak seorang muslim, wujud ukhuwah Islamiah, kesabaran dalam bermusyawarah, keberanian menegakkan kebenaran dengan hikmah, serta keikhlasan untuk saling membantu karena Allah semata.
Mualaf Center Indonesia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam perjuangan ini. Ada yang membantu dengan doa, tenaga, ilmu, kendaraan, menjadi saksi, maupun menjadi penengah. Semua menjadi bagian dari sebab datangnya pertolongan Allah.
Apabila selama proses tersebut terdapat tutur kata, sikap, maupun tindakan yang kurang berkenan, Mualaf Center Indonesia memohon maaf dengan setulus hati.
Semoga Allah menerima seluruh amal kebaikan yang telah dilakukan sebagai amal saleh dan memberikan balasan terbaik kepada setiap pihak yang telah membantu.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa seorang muslim tidak pernah benar-benar sendirian. Bahkan hingga hembusan napas terakhirnya, masih ada saudara-saudaranya yang berusaha menunaikan haknya karena Allah.
"Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada penutupnya." (HR. Al-Bukhari)
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala meneguhkan hati setiap mualaf di atas keimanan, memberikan mereka husnulkhatimah, serta mewafatkan kita semua dalam keadaan membawa iman dan Islam.





Baca berita lainnya

Alirkan Kebahagiaan melalui Jumat Berbagi
MCI Divisi Akhwat Kota Depok menghadirkan program Jumat Berbagi untuk menebar kebahagiaan, kepedulian, dan manfaat bagi saudara-saudara yang membutuhkan.

MCI Kembali Salurkan Bantuan Gempa di Ende, NTT
MCI bersama Laznas Dompet Al-Qur'an Indonesia menyalurkan bantuan bagi 150 kepala keluarga korban gempa di Dusun Watubara, Desa Mukusaki, Kecamatan Wewaria, Ende.

MCI Salurkan Bantuan untuk Gempa NTT
MCI bersama LAZNAS DQ menyalurkan bantuan pangan, trauma healing, dan program terpal bagi warga terdampak gempa di beberapa wilayah Nusa Tenggara Timur.
