Mualaf Center Indonesia
Back to all articles
Inspirasi

Mukjizat Abadi Nabi: Kisah Fandy W. Gunawan Memeluk Islam

Kisah perjalanan spiritual Fandy W. Gunawan, dari fase pembuktian iman secara ekstrem hingga hidayah yang menyentuh seluruh keluarga besarnya.

Mukjizat Abadi Nabi: Kisah Fandy W. Gunawan Memeluk Islam

Perjalanan spiritual seorang mualaf sering kali dipenuhi dengan ujian dan pencarian yang mendalam. Hal ini juga dialami oleh Fandy W. Gunawan. Uniknya, di awal keislamannya, ia melalui fase pembuktian iman yang terbilang ekstrem: hanya berpedoman pada Al-Qur'an dan menolak hadis selama hampir 10 tahun, terhitung sejak 2005 hingga 2015.

Kala itu Fandy beranggapan bahwa hadis sekadar ucapan manusia biasa. Bahkan ia sempat berpikir ahwa Nabi Muhammad sekadar penyampai pesan yang "kebetulan saja dilewati firman Allah". Fokus utamanya saat itu adalah membuktikan bahwa Islam sungguhlah agama yang benar, dengan meninjau langsung janji-janji Allah yang terdapat di dalam Al-Qur'an.

Pembuktian Janji Allah dan Kekuatan Al-Qur'an

Selama masa pembuktian tersebut, Fandy menyaksikan secara nyata bahwa semua janji Allah Swt. dalam Al-Qur'an senantiasa dipenuhi. Hal ini termasuk janji pembagian rezeki kepada nonmuslim di mana orang-orang yang berbuat baik namun belum beriman akan dibalas secara tunai di dunia. Hal tersebut turut mematahkan rasa heran mengapa sebagian dari mereka tampak begitu dimudahkan urusan rezekinya.

Titik balik terbesarnya adalah saat ia mulai menyadari bahwa Nabi Muhammad saw. sejatinya dibekali mukjizat yang jauh lebih besar dan bertaraf luar biasa dibandingkan nabi-nabi dan rasul terdahulu, sekalipun beliau tidak menampilkan mukjizat fisik yang dahsyat seperti membelah lautan atau menghidupkan orang mati.

Dua mukjizat utama Nabi Muhammad saw. yang akhirnya menyentuh nalar kemanusiaan Fandy adalah:

  1. Kemurnian dan Keabadian Al-Qur'an: Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang teks dan kemurniannya benar-benar dijaga ketat oleh Allah sampai detik ini. Fandy menyebutkan analogi ekstrem, seandainya seluruh tulisan yang ada di dunia mendadak musnah, Al-Qur'an dapat disusun ulang secara utuh hanya dalam hitungan hari, berkat banyaknya para penghafal Al-Qur'an (Hafiz).
  2. Universalitas Ibadah Salat: Perintah salat yang dilantunkan menggunakan bahasa Arab dengan tata cara yang sama, di belahan bumi mana pun seorang muslim berada, memuat sebuah keajaiban sosial tersendiri. Adanya sistem ibadah yang terhubung (coupled) sedemikian rupa menghilangkan rasa terasing bagi seorang muslim di mana pun ia menjejakkan kaki. Keajaiban demi keajaiban tersebut kian membuktikan betapa sempurnanya desain syariat Allah.

Ujian Berat dan Hidayah untuk Keluarga

Perjalanan Fandy sebagai mualaf tidak selamanya mulus, melainkan dipenuhi ujian dan rintangan yang ia yakini sebagai sunatullah. Ia berpegang dan merenungkan firman Allah: "Apakah kalian berpikir kalian akan masuk surga, sebelum datang ujian kepada kalian?". Fandy menegaskan bahwa jika seseorang merasa sanggup bertahan, hal itu berarti ia baru sekadar menganggap selayang pandang ujian tersebut sebagai perkara yang kecil belaka.

Adapun kisah paling mengharukan dari perjalanannya adalah tentang jalan hidayah bagi keluarganya. Mengingat kembali pada momen di mana sang ibunda tercinta sedang sakit kritis dan sempat bertanya apakah Fandy bersedia menemaninya ke gereja. Dari percakapan itu, mengalirlah benang diskusi mendalam hingga Fandy akhirnya menjelaskan bahwa figur Nabi Isa a.s. juga diperlakukan dengan amat baik, dihormati, sekaligus dimuliakan di dalam agama Islam.

Dua minggu pascadiskusi mengenai hal ketuhanan tersebut, ibunda Fandy mantap mengucap kalimat syahadat sebelum akhirnya beliau meninggal dunia beberapa waktu berselang. Peristiwa haru nan sakral tersebut menjadi titik balik yang mendidik hidayah berlabuh bagi saudara sedarahnya; menyusul keislaman ke seluruh keluarga intinya—termasuk adik-adik bungsunya.

Sebagai penutup yang menyentuh, Fandy W. Gunawan, yang kini aktif menjadi Ketua Mualaf Center Indonesia (MCI) Pusat, memberikan sebuah pesan kunci bagi para saudara seiman maupun mualaf yang tengah diuji pelik oleh kehidupan:

"Berharaplah selalu kepada Allah, bukan kepada manusia. Ketika kamu merasa masalahmu sudah mentok dan tidak ada manusia yang mampu atau sudi membantu, sungguh, di saat mutlak kepasrahan itulah Allah akan membuktikan secara terang dan utuh kebenaran janji-janji-Nya."