
Perkara hidayah Islam memang tak mudah dikejar, namun pada saat yang tepat hidayah tersebut akan datang dari cara yang tidak terduga. Meski caranya mungkin terlihat sepele, hal ini dapat mengubah hati manusia dan memantapkannya untuk semakin yakin pada Islam.
Beliau bernama Godlif Christian Poeh. Ia bercerita bahwa di masa kecilnya ia sudah akrab dengan lingkungan yang islami. Dari teman bermain di rumah hingga teman sehobinya mayoritas adalah muslim. Lingkungan yang beragam tersebut membuatnya belajar toleransi antaragama.
Pada tahun 2018, ia mulai mempertanyakan keimanannya, khususnya mengenai penafsiran Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam keyakinan lamanya. Penafsiran tentang Allah antara agama lamanya dan Islam ternyata jauh berbeda.
"Saya sudah bertanya pada orang tua, saudara, teman, bahkan termasuk dosen dan pendeta. Saya tetap tidak mendapat jawaban yang memuaskan dan meyakinkan," terangnya. Kemudian, ia mulai tertarik dan mencari tahu tentang Islam. Perjalanan mempelajari Islam itu awalnya ia lakukan sendiri, hingga pada suatu hari saat ia masih berada di Tangerang, seorang teman dekatnya yang juga muslim menjadi teladan yang baik bagi Godlif.
"Selama itu, saya juga ada masalah. Sering ditegur karena terlihat plin-plan oleh teman saya yang di Tangerang itu. Banyak hal yang membuat saya terlihat plin-plan dan kebanyakan karena faktor eksternal. Ini membuat keputusan saya bersyahadat jadi sering tertunda," ungkapnya.
Dalam proses mengenal dan mempelajari Islam, Godlif sangat kagum akan pedoman hidup manusia yang diatur oleh Allah dalam Islam. Kekagumannya itu berawal dari perasaan bahwa tidak ada pedoman kehidupan yang selengkap dan sedetail dalam Islam. Hingga akhirnya, keputusannya bulat untuk bersyahadat dan berikrar tepat pada 14 Januari 2021, dibantu oleh MCI Malang.
"Orang terdekat yang tahu keputusan saya sedih dan kecewa, ya pastinya. Keluarga, teman, dan mantan istri juga turut menyayangkan. Mereka tidak membenci, meskipun masih ada upaya untuk membawa saya kembali ke agama lama," lanjut pria kelahiran Tanjung Enim itu.
"Masyaallah, rasanya menjadi muslim itu seakan saya sampai di garis akhir. Tiap mendengar azan, rasanya saya hanya ingin sujud dan sujud. Kini saya masih terus belajar dan berjuang bersama Islam. Saya yakin, ini garis akhir dari pencarian saya selama ini," tandas Godlif, yang saat ini sudah bekerja di LAZNAS Dompet Al-Qur'an Indonesia.
Baca berita lainnya

Perjuangan Seorang Mualaf: Meninggalkan Keluarga demi Mempertahankan Keimanan dan Memulai Hidup Baru
Kisah Pak Aman, mualaf yang harus meninggalkan keluarganya demi mempertahankan keimanan, kini berjuang bangkit dan hidup mandiri secara halal dan bermartabat.

Ketika Pencarian dan Jawaban Membawa Seseorang pada Cahaya Kebenaran: Kisah Mualaf Giovani Dimas Antares
Kisah pergulatan spiritual Giovani Dimas Antares, mualaf yang meninggalkan karier mapan di Amerika Serikat demi memeluk Islam dan menemukan ketenangan batin yang sejati.

Kisah Inspiratif Mas Lando: Dari Ketukan Azan hingga Bangkit Bersama Mualaf Center Indonesia
Perjalanan hidayah Mas Lando, mualaf yang menemukan kedamaian Islam lewat lantunan Al-Qur'an dan azan, lalu bangkit dari kebangkrutan bersama dukungan Mualaf Center Indonesia.
