Mualaf Center Indonesia
Back to all articles
Inspirasi

Ketika Pertanyaan Demi Pertanyaan Menuntun pada Jalan Kebenaran

Kisah hidayah Yohanes Irvan Prasetyo, mualaf yang menemukan kebenaran Islam melalui rangkaian pertanyaan, pergulatan batin, dan kelembutan akhlak orang-orang di sekitarnya.

Ketika Pertanyaan Demi Pertanyaan Menuntun pada Jalan Kebenaran

Ada satu fase dalam kehidupan manusia ketika berbagai pertanyaan yang selama ini dipendam justru menjadi gerbang awal menuju jawaban. Berbagai pertanyaan itulah yang perlahan menuntun Yohanes Irvan Prasetyo menemukan kebenaran yang selama ini ia cari. Sebuah perjalanan panjang yang akhirnya bermuara pada keputusan terbesar dalam hidupnya, berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan memeluk agama Islam.

Irvan lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat. Masa kecilnya diwarnai kehidupan religius yang kuat. Namun, semuanya berubah ketika sang ayah memutuskan kembali memeluk Islam. Ketiga kakaknya pun mengikuti jejak sang ayah.

Keputusan itu justru menimbulkan penolakan dan skeptisisme terhadap Islam dalam diri Irvan. Bersama ibunya, ia tetap mempertahankan keyakinan yang dianut sejak kecil. Bahkan, setiap liburan sekolah, ia mengikuti pengenalan dunia seminari, sekolah calon pastor, dengan harapan kelak dapat mengabdikan hidupnya bagi gereja.

Namun, di tempat itulah benih-benih pertanyaan mulai tumbuh. Semakin banyak belajar, semakin banyak pula hal-hal yang membuatnya bertanya tentang ajaran yang selama ini diyakini. Keraguan itu terus mengendap hingga akhirnya ia membatalkan niat untuk menjadi pastor.

Saat menempuh pendidikan di bangku kuliah, Allah mempertemukannya dengan teman-teman aktivis muslim dan seorang pengasuh pondok pesantren yang dikenal santun, rendah hati, dan penuh kasih. Tidak ada perdebatan, tidak ada paksaan, apalagi ajakan yang memaksa. Yang ia lihat hanyalah akhlak, ketulusan, dan ketenangan yang terpancar dari kehidupan mereka.

Dari sanalah rasa ingin tahunya semakin besar. Ia mulai membaca terjemahan Al-Qur'an, berdiskusi tentang akidah Islam, dan mencari jawaban atas setiap pertanyaan yang selama ini memenuhi pikirannya. Perjalanan itu bukan sekadar proses intelektual, tetapi juga perjuangan untuk menundukkan ego dan mengakui bahwa ada Zat Yang Maha Kuasa sedang membimbing langkahnya menuju jalan pulang.

Setelah melalui pergulatan batin yang panjang, pada tahun 2007, Irvan akhirnya mantap mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam.

Keputusan itu bukan tanpa ujian. Ada rasa takut kehilangan teman, kekhawatiran akan penolakan keluarga, terutama dari ibu, hingga pertanyaan dalam dirinya sendiri, "Mampukah aku bertahan menjadi seorang muslim yang istikamah?"

Malam-malam panjang dipenuhi doa dan pergulatan batin. Namun, setiap kali keraguan datang, ia selalu teringat ketenangan yang ia rasakan saat membaca firman Allah dan mengikuti kajian demi kajian. Ketenangan itulah yang terus menguatkan langkahnya.

Perjalanan setelah menjadi mualaf pun tidak selalu mudah. Sang ibu sempat menolak keputusan tersebut. Namun, Irvan memilih untuk membalas semuanya dengan doa, kasih sayang, dan akhlak yang baik. Ia percaya bahwa hidayah adalah hak Allah, bukan hasil perdebatan.

Tahun demi tahun berlalu. Atas izin Allah SWT, pada tahun 2014, tepat di malam Natal, sang ibu akhirnya menjawab panggilan hidayah dan mengikuti jejak suami serta anak-anaknya dengan memeluk agama Islam.

Bagi Irvan, menjadi mualaf bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari proses belajar yang tidak pernah selesai. Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki niat, menyempurnakan ibadah, memperdalam ilmu, dan menebarkan manfaat kepada sesama melalui akhlak yang lembut.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa hidayah sering kali datang melalui jalan yang tidak pernah kita duga. Bukan melalui paksaan, melainkan melalui kejujuran dalam mencari kebenaran dan keberanian untuk menerima jawaban ketika hati telah menemukannya.

Bagi siapa pun yang hari ini sedang diliputi keraguan, merasa lelah dengan kehidupan, atau masih mencari makna sejati, jangan pernah takut untuk terus bertanya dan mencari. Sebab, ketika hati dibuka dengan penuh keikhlasan, Allah SWT akan menunjukkan jalan terbaik menuju ketenangan yang selama ini dicari.

"Barang siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam." (QS. Al-An'am: 125)

Foto 1
Foto 2
Foto 3