Mualaf Center Indonesia
Back to all articles
Inspirasi

Dari Mimpi Neraka ke 'Allahu Akbar': Hidayah Ibrahim Ardy Widiantoro

Kisah perjalanan hidayah Ibrahim Ardy Widiantoro, yang menemukan kebenaran Islam melalui rentetan mimpi panjang dan doa keselamatan yang tulus.

Dari Mimpi Neraka ke 'Allahu Akbar': Hidayah Ibrahim Ardy Widiantoro

Kegelisahan tentang makna kebenaran mengantarkan Gregorius Ardy Christmas Widiantoro pada sebuah lantunan doa yang amat sederhana, "Tunjukkan aku jalan keselamatan yang sebenar-benarnya." Ia tak pernah menyangka bahwa doa tersebut akan segera dijawab oleh Tuhan dengan cara yang begitu mengguncang batinnya.

Selama satu minggu berturut-turut, setiap malam ia digelimangi bayang mimpi tengah berjalan di atas bara api yang panas menuju sebuah jurang gelap nan curam. Setiap kali langkahnya hampir terjatuh, ia berseru memanggil nama figur tiga tuhan yang selama itu ia sembah. Sayangnya, tak satu pun dari rentetan panggilan itu mendatangkan pertolongan. Ia selalu terbangun dalam keadaan terenyak dan sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat lelah, padahal saat itu ia memejamkan mata di dalam kamar yang ber-AC.

Hingga sampailah pada batas malam terakhir, di tengah keputusasaannya dalam balutan mimpi tersebut, dari lidahnya tiba-tiba keluar terucap sebuah kalimat yang belum pernah ia lantunkan secara sadar sebelumnya, yakni kalimat "Allahu Akbar".

Ajaibnya, seiring bergulirnya kalimat kebesaran itu, rentetan mimpi buruknya sirna dan berhenti seketika. Ia seolah menemukan jalan keluar yang terang-benderang melalui sebuah pintu yang baru saja dibukakan.

Sekalipun status agamanya belum mengikrarkan syahadat, namun nuraninya sudah lama terpaut menatap gerbang Islam. Ia pun mulai mencoba menunaikan ibadah perkenalan dengan melakukan salat dan puasa secara diam-diam kendati tanpa ada bimbingan seorang guru. Menariknya, salat Zuhur dan Asarnya sesekali sempat dikerjakan sebanyak tiga rakaat lantaran ketidaktahuannya mengenai tata cara rakaat yang utuh pada masa-masa itu.

Meski begitu, ada semacam kedamaian syahdu yang merambat pelan dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Itu pertama kalinya saya merasa benar-benar pulang," kenangnya.

Alhamdulillah, sebagai pelengkap penyempurna bagi penjemputan hidayah tersebut, ia pun mengikrarkan dua kalimat syahadat. Nama Gregorius Ardy Christmas Widiantoro kemudian diubah menjadi Ibrahim Ardy Widiantoro—sebuah nama yang menandakan tonggak titik awal terlahir kembali. Pemilihan rujukan nama Ibrahim ini meneladani jejak mulia Nabi Ibrahim a.s. yang juga gigih mencari eksistensi Tuhannya melalui kekuatan akal sehat dan kemurnian hati yang tulus.

Tentu saja, rentetan badai ujian segera menyapa perjalanannya pascamemperoleh hidayah. Pria ini sempat dikucilkan oleh segenap sanak keluarga bahkan dijauhi teman-teman dalam lingkarannya, sampai-sampai ia mengalami sekian perlakuan yang menzalimi. Meski begitu, ketenangan yang telah Allah Swt. anugerahkan tak sedikit pun terkoyak dan terusik.

"Semakin mereka menjauhi, semakin saya pun merasa dekat dengan titian Allah," ujarnya. Semangatnya untuk mendalami pelita bacaan Al-Qur'an pada akhirnya justru bertumbuh kian mekar dan tak tergoyahkan.

Kini, Ardy mendedikasikan usia serta tenaga kerjanya di BAZNAS dan turut berkiprah aktif membesarkan denyut komunitas Mualaf Center Indonesia (MCI). Ia tak pernah letih menjalin erat simpul silaturahmi sembari saling bahu-membahu menolong saudara se-mualaf lainnya yang juga sedang tabah dan gigih berjuang. Serpihan pengalaman getir hingga kepahitan di ranah masa lalunya, seolah beralih fungsi menjadi sebuah lentera kekuatan landasan guna mengokohkan empati di relung kemanusiaan mereka yang mempunyai nasib serupa.

Allah Swt. berfirman dalam QS Yunus ayat 104 yang berbunyi:

"Jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah apa yang kamu sembah selain Allah."

Bagi sosok Ardy, terjemah makna dari ayat di atas bukan sekadar ejaan bacaan tekstual belaka. Baris ayat Ilahi menjelma nyata merangkum bukti bahwa embusan hidayah itu sungguh eksis dan autentik—membuyarkan ancaman bara di tubir jurang kehancuran, semata-mata untuk menggamit pulang jiwa yang tersesat menuju pelukan terang kehangatan Tuhannya.